Artikel LPTQ

Dari Kantor ke Arena, Kak Wati dan Bang Ansor Tak Pernah Membiarkan Kafilah Rantau Berjalan Sendiri

Dari Kantor ke Arena, Kak Wati dan Bang Ansor Tak Pernah Membiarkan Kafilah Rantau Berjalan Sendiri
Dari Kantor ke Arena, Kak Wati dan Bang Ansor Tak Pernah Membiarkan Kafilah Rantau Berjalan Sendiri

 


Rantau, 13 Juli 2026 — Keberhasilan sebuah kafilah dalam mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an tidak hanya ditentukan oleh kemampuan peserta di atas mimbar. Di balik penampilan para qari, qariah, hafiz, hafizah, serta regu-regu terbaik yang membawa nama kecamatan, terdapat orang-orang yang bekerja sejak tahap persiapan, mengurus administrasi, menjalin koordinasi, memastikan kebutuhan peserta, dan bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya agar seluruh rangkaian dapat berjalan dengan baik.

Dalam perjalanan Kafilah MTQ Kecamatan Rantau dari masa ke masa, dua sosok dari Kantor Camat Rantau hampir tidak pernah terpisahkan dari berbagai kesibukan tersebut. Mereka adalah Adiawati, S.T., yang akrab disapa Kak Wati, dan Ansor Pohan, yang dikenal dengan sapaan Bang Ansor. Keduanya bukan sekadar hadir ketika kegiatan telah dimulai, melainkan telah lama menjadi bagian penting dalam persiapan, pengurusan, dan pengawalan kafilah pada setiap pelaksanaan MTQ.

Bagi keluarga besar LPTQ Kecamatan Rantau, Kak Wati dan Bang Ansor merupakan dua sosok yang dapat diandalkan dalam berbagai keadaan. Ketika urusan administrasi harus diselesaikan, koordinasi dengan panitia perlu dilakukan, atau kebutuhan mendadak muncul di arena, keduanya selalu berusaha memastikan Kafilah Rantau tidak menghadapi seluruh persoalan sendirian.

Lihat juga: Jauh Bertugas di Aceh Tenggara, Ustadzah Ummi Kasum Justru Jadi Sosok Penting di Balik Kafilah Kecamatan Rantau

Kak Wati merupakan sosok yang selama ini dikenal dekat dengan berbagai kegiatan sosial dan keagamaan di Kecamatan Rantau. Tugasnya pada bidang Kesejahteraan Rakyat dan Keistimewaan Aceh membuatnya berhadapan langsung dengan beragam kebutuhan masyarakat. Dalam kondisi pascabanjir seperti saat ini, kesibukannya semakin berat karena banyaknya administrasi bantuan, jaminan hidup, serta berbagai keperluan masyarakat terdampak yang harus diproses secara tertib dan bertanggung jawab.

Padatnya pekerjaan tersebut ternyata tidak mengurangi perhatiannya terhadap perjalanan Kafilah MTQ Kecamatan Rantau. Di sela-sela kesibukan pelayanan masyarakat, Kak Wati tetap mengikuti perkembangan persiapan kafilah, membantu koordinasi yang berkaitan dengan pihak kecamatan, serta memberikan perhatian terhadap kebutuhan para peserta dan pendamping yang membawa nama Kecamatan Rantau.

Komitmen itu kembali terlihat pada pelaksanaan MTQ ke-IX Tingkat Kabupaten Aceh Tamiang yang berlangsung di kompleks Islamic Center Aceh Tamiang pada 8 hingga 11 Juli 2026. Dalam waktu yang hampir bersamaan dengan pelaksanaan MTQ, salah seorang anggota keluarga inti Kak Wati berpulang ke rahmatullah. Keadaan tersebut mengharuskannya meninggalkan Aceh Tamiang dan menempuh perjalanan hingga ke Pidie Jaya untuk menunaikan kewajiban keluarga dalam suasana duka.

Foto: Adiawati, ST & Mara pada MTQ ke IX Aceh Tamiang

Dalam keadaan demikian, sangat wajar apabila Kak Wati tidak lagi dapat mengikuti rangkaian MTQ hingga selesai. Namun, setelah menyelesaikan urusan keluarganya, ia tetap berusaha mengejar waktu agar dapat kembali membersamai Kafilah Rantau, meskipun hanya pada hari terakhir pelaksanaan kegiatan.

Pada Sabtu, 11 Juli 2026, Kak Wati akhirnya kembali hadir di arena. Ia turut menyaksikan dan mengamati jalannya babak final Fahmil Qur’an, saat dua regu Kafilah Kecamatan Rantau, putra dan putri, sama-sama berhasil mencapai babak penentuan. Kehadirannya pada saat itu bukan hanya menunjukkan kecintaannya terhadap kegiatan MTQ, tetapi juga menggambarkan besarnya rasa tanggung jawab terhadap para peserta yang telah berjuang membawa nama Kecamatan Rantau.

Kesediaan untuk kembali setelah menempuh perjalanan jauh dalam suasana duka menjadi bukti bahwa keterlibatan Kak Wati dalam MTQ tidak berhenti pada tugas formal. Ia hadir karena merasa menjadi bagian dari perjuangan kafilah. Bahkan ketika tenaga, waktu, dan pikirannya sedang terbagi antara pelayanan masyarakat, pekerjaan kantor, dan kewajiban keluarga, ia tetap berusaha memberikan dukungan kepada para peserta.

Sementara itu, Bang Ansor dikenal sebagai sosok yang gerakannya hampir tidak pernah berhenti selama persiapan maupun pelaksanaan MTQ. Ia bekerja tanpa banyak terlihat dan tidak selalu sempat terdokumentasikan. Dalam satu waktu, ia dapat berada di Kantor Camat Rantau untuk menyelesaikan administrasi. Tidak lama kemudian, ia sudah berada di arena utama, lalu beberapa saat setelahnya kembali terlihat di lokasi Fahmil Qur’an untuk memastikan kebutuhan peserta dan official dapat terpenuhi.

Foto: Bang Ansor & bed peserta di MTQ  ke-VII di Seruway

Kecepatan gerak Bang Ansor terkadang membuat orang sulit mengetahui seluruh pekerjaan yang telah diselesaikannya. Berbagai urusan administrasi dengan panitia, kelengkapan dokumen kafilah, koordinasi lapangan, penyampaian informasi, hingga kebutuhan yang muncul secara mendadak menjadi bagian dari aktivitas yang ditanganinya. Sebelum satu urusan sempat banyak dibicarakan, Bang Ansor sering kali sudah lebih dahulu bergerak untuk menyelesaikannya.

Lihat juga: Lolos Final! Fahmil Qur’an Putri Rantau Susul Tim Putra ke Babak Final MTQ IX Aceh Tamiang

Cara kerja tersebut bukan hanya terlihat pada MTQ tahun 2026. Dari satu pelaksanaan MTQ ke pelaksanaan berikutnya, Bang Ansor telah dikenal sebagai sosok yang selalu siap ketika Kafilah Rantau memerlukan bantuan. Ia tidak banyak tampil di depan, tetapi gerakannya terasa dalam berbagai urusan yang membuat perjalanan kafilah menjadi lebih teratur.

Ketangguhan dan kedisiplinan Bang Ansor juga tercermin dari penghargaan yang pernah diterimanya sebagai ASN Teladan Golongan II dari Kecamatan Rantau. Penghargaan tersebut selaras dengan karakter kerjanya yang gesit, bertanggung jawab, serta mampu hadir di berbagai tempat ketika tugas memerlukan penyelesaian segera.

Di luar kesibukannya sebagai pegawai Kantor Camat Rantau, Ansor Pohan juga mengemban tanggung jawab keagamaan sebagai imam dusun di Mushalla Al-Falah, Alur Cucur. Peran itu memperlihatkan bahwa pengabdiannya tidak hanya berlangsung di lingkungan pemerintahan, tetapi juga tumbuh di tengah kehidupan masyarakat dan jamaah tempat ia tinggal.

Bang Ansor melayani masyarakat melalui pekerjaannya, memimpin jamaah dalam kegiatan ibadah, sekaligus ikut memastikan Kafilah MTQ Kecamatan Rantau dapat bergerak dengan baik. Berbagai tanggung jawab tersebut dijalankannya dengan semangat yang sama, tanpa banyak mengeluh dan tanpa menunggu sorotan.

Kak Wati dan Bang Ansor memiliki gaya kerja yang berbeda, tetapi keduanya saling melengkapi. Kak Wati hadir melalui keteguhan, kepedulian, dan kemampuannya menjaga hubungan antara kebutuhan masyarakat, pemerintah kecamatan, dan kepentingan kafilah. Bang Ansor hadir melalui kegesitan, kesiapsiagaan, serta kemampuannya menangani berbagai urusan administrasi dan teknis di lapangan.

Kontribusi keduanya juga menunjukkan kuatnya dukungan Pemerintah Kecamatan Rantau terhadap pembinaan dan pengembangan syiar Al-Qur’an. Di bawah koordinasi Camat Rantau, aparatur kecamatan tidak hanya menjalankan pelayanan pemerintahan secara administratif, tetapi juga ikut mengambil peran nyata dalam mendampingi putra-putri terbaik Kecamatan Rantau yang berjuang pada ajang MTQ.

Dukungan seperti inilah yang membuat hubungan antara Kantor Camat Rantau dan LPTQ Kecamatan Rantau tidak berhenti pada hubungan kelembagaan. Di dalamnya terdapat semangat kebersamaan, rasa memiliki, serta kesediaan untuk saling membantu agar para peserta dapat tampil membawa nama kecamatan dengan persiapan yang sebaik-baiknya.

Lihat juga: Tiga Santriwati Kampung Suka Mulia Tampil di Cabang Syarhil Qur’an, Bawa Nama Kecamatan Rantau di MTQ IX Aceh Tamiang

Piala dan penghargaan memang diterima oleh peserta yang berhasil meraih juara. Namun, perjalanan sebuah kafilah juga dibangun oleh orang-orang yang mengurus berkas, menghubungi panitia, memastikan jadwal, berpindah dari kantor menuju arena, dan tetap hadir meskipun sedang menghadapi pekerjaan berat maupun persoalan pribadi.

Oleh karena itu, nama Adiawati dan Ansor Pohan layak disebut sebagai bagian dari perjalanan panjang Kafilah MTQ Kecamatan Rantau. Bukan karena keduanya meminta untuk dipuji, melainkan karena jejak pengabdian mereka telah terlihat dari satu pelaksanaan MTQ ke pelaksanaan berikutnya.

Ketika Kafilah Rantau bersiap, keduanya ikut memikirkan. Ketika kafilah menghadapi kendala, keduanya ikut mencari jalan keluar. Ketika para peserta bertanding di arena, keduanya tetap berada di sekitar perjuangan tersebut dengan tugas dan caranya masing-masing.

Dari kantor menuju arena, Kak Wati dan Bang Ansor telah membuktikan bahwa pengabdian tidak selalu harus tampil di atas panggung. Melalui kerja yang konsisten, tulus, dan penuh tanggung jawab, keduanya memastikan Kafilah MTQ Kecamatan Rantau tidak pernah berjalan sendiri.

Komentar

Belum ada komentar. Anda dapat menjadi pemberi komentar pertama.