Artikel LPTQ

Sarapan Bersama di Koramil 08/Rantau, Forkopimcam dan Tokoh Masyarakat Perkuat Sinergi untuk Kecamatan Rantau

Sarapan Bersama di Koramil 08/Rantau, Forkopimcam dan Tokoh Masyarakat Perkuat Sinergi untuk Kecamatan Rantau
Sarapan Bersama di Koramil 08/Rantau, Forkopimcam dan Tokoh Masyarakat Perkuat Sinergi untuk Kecamatan Rantau

 

Rantau, Jumat, 21 Agustus 2026 — Suasana penuh keakraban mewarnai pertemuan dan sarapan bersama yang berlangsung di Kantor Koramil 08/Rantau, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, Jumat pagi sekitar pukul 09.00 WIB.

Pertemuan tersebut mempertemukan unsur Forkopimcam, pemerintahan kecamatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintahan kampung, serta sejumlah unsur lainnya untuk berbincang secara terbuka mengenai berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat Kecamatan Rantau.

Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Danramil 08/Rantau Kapten Inf Lusmin, Camat Rantau Desy Nuriza, S.STP., M.M., unsur Polsek Rantau yang diwakili Wakapolsek Rantau IPTU Muhammad Haris, Sekretaris Kecamatan Rantau Cut Nanda Nofrita, S.STP., M.AP., Kepala KUA Kecamatan Rantau M. Tamba, S.Ag., Datok Penghulu Kampung Alur Cucur Fahrul Hanafi, S.P., serta unsur Koramil 08/Rantau, di antaranya Peltu Saifullah.

Sejumlah tokoh agama dan masyarakat juga turut hadir, di antaranya Tgk. Nurmiswari atau yang akrab disapa Abiya, Pimpinan Dayah Misbahurrasyad Al-Aziziyah Benua Raja, Ust. H. Riswanto, Ketua LPTQ Kecamatan Rantau, Drs. Junaidi, mantan Kepala SMA Patra Nusa Rantau, serta H. Zubair dan sejumlah tokoh lainnya.

Bukan Sekadar Sarapan, Tetapi Ruang Membicarakan Persoalan Masyarakat

Pertemuan yang dikemas secara sederhana tersebut berkembang menjadi ruang komunikasi yang cukup substantif. Berbagai persoalan masyarakat dibicarakan secara langsung dengan semangat mencari jalan keluar bersama.

Danramil 08/Rantau Kapten Inf Lusmin beberapa kali menekankan pentingnya kerja bersama antarelemen di Kecamatan Rantau.

“Kita harus bersinergi,” ungkapnya.

Semangat tersebut menjadi salah satu benang merah pertemuan. Persoalan yang ada di tengah masyarakat dinilai tidak selalu dapat diselesaikan oleh satu lembaga saja. Pemerintah kecamatan, TNI, Polri, unsur keagamaan, pemerintahan kampung, serta tokoh masyarakat memiliki fungsi dan ruang kontribusi masing-masing.

Alat Berat untuk Kepentingan Masyarakat, Tetap Berdasarkan Skala Prioritas

Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian adalah keberadaan alat berat atau backhoe yang disebut tersedia melalui dukungan pemerintah/Kementerian Dalam Negeri dalam rangka membantu penanganan kebutuhan masyarakat.

Dalam pertemuan ditegaskan bahwa keberadaan alat tersebut harus benar-benar memberi manfaat kepada masyarakat. Pemanfaatannya tidak dimaksudkan sebagai layanan komersial dan masyarakat penerima manfaat tidak dibebani pembayaran atas penggunaan alat yang memang diperuntukkan sebagai bantuan.

Namun demikian, keterbatasan waktu dan kapasitas alat membuat penggunaannya tidak dapat dilakukan semata-mata berdasarkan urutan permohonan.

Setiap kebutuhan yang diajukan terlebih dahulu akan ditelaah dan dilakukan asesmen lapangan. Penanganan kemudian diarahkan kepada kebutuhan yang masuk skala prioritas, dengan mempertimbangkan tingkat urgensi, luasnya manfaat bagi masyarakat, jumlah warga yang terdampak, kondisi teknis lapangan, serta risiko apabila persoalan tersebut tidak segera ditangani.

Dengan pola tersebut, pemanfaatan alat berat diharapkan benar-benar tepat sasaran, transparan dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

Beberapa peserta yang hadir juga menyampaikan kebutuhan maupun permohonan dari lingkungan masing-masing. Seluruh masukan tersebut pada prinsipnya akan ditindaklanjuti melalui pengecekan dan asesmen terlebih dahulu sebelum ditentukan bentuk penanganannya.

Jaga Kondusivitas dan Jangan Mudah Terprovokasi

Pembicaraan kemudian menyentuh perkembangan situasi di Aceh setelah insiden yang terjadi di Banda Aceh beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan tersebut, Danramil menyampaikan rasa syukur karena sejauh pemantauan dan informasi yang ada, tidak terdapat unsur dari Kecamatan Rantau yang terkait dengan insiden tersebut, terlebih menjadi penggerak utama di dalamnya.

Kondisi tersebut diharapkan terus dipertahankan dengan menjaga komunikasi serta tidak mudah terbawa oleh informasi atau provokasi yang berpotensi mengganggu kedamaian masyarakat.

Pesan tersebut mendapat tanggapan dari Tgk. Nurmiswari atau Abiya. Menurutnya, masyarakat Aceh mempunyai pengalaman panjang tentang betapa pahitnya kehidupan dalam situasi konflik.

Abiya mengingatkan agar pengalaman tersebut tidak kembali terulang.

“Jangan sampai kita terprovokasi. Perang sudah pernah kita rasa. Tidak ada enaknya, pahit,” ujarnya.

Ia kemudian mencontohkan peperangan yang masih berlangsung di sejumlah negara, termasuk Rusia dan Ukraina. Menurut Abiya, pertikaian pada akhirnya menghadirkan kerugian besar bagi semua pihak.

Ia menggambarkannya dengan peribahasa, “menang jadi arang, kalah jadi abu.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perbedaan maupun persoalan hendaknya diselesaikan melalui komunikasi, musyawarah dan jalur yang baik, bukan dengan tindakan yang justru merugikan masyarakat luas.

Persoalan Pemahaman Keagamaan Juga Menjadi Perhatian

Selain persoalan sosial dan keamanan, pertemuan turut menyinggung adanya informasi mengenai pemahaman atau praktik keagamaan tertentu yang dinilai perlu mendapat perhatian dan pembinaan, termasuk penyebutan mengenai praktik yang dikenal sebagai “nikah batin”.

Pembicaraan tersebut tidak diarahkan untuk memberi stigma atau menjatuhkan penilaian kepada seseorang maupun kelompok tertentu. Sebaliknya, para pihak memandang bahwa setiap informasi semacam itu perlu terlebih dahulu ditelaah secara hati-hati dan didekati melalui pembinaan keagamaan yang tepat.

Camat Rantau meminta dukungan unsur keagamaan dan para tokoh yang hadir agar apabila benar terdapat pemahaman yang tidak tepat di tengah masyarakat, dapat dilakukan pendekatan dan pembinaan sehingga persoalan tidak berkembang lebih jauh.

Semangat yang muncul adalah mengedepankan klarifikasi, pendekatan persuasif, pembinaan dan keterlibatan pihak yang memang memiliki kompetensi di bidang keagamaan.

Sinergi Menjadi Kunci

Pertemuan pagi tersebut menunjukkan pentingnya komunikasi informal antarelemen masyarakat sebagai pelengkap koordinasi kelembagaan yang telah berjalan.

Persoalan infrastruktur masyarakat membutuhkan asesmen dan kerja lapangan. Persoalan sosial membutuhkan kehadiran tokoh masyarakat. Persoalan keagamaan memerlukan pembinaan dari pihak yang berkompeten. Sementara situasi keamanan memerlukan komunikasi yang baik agar masyarakat tidak mudah terseret oleh isu dan provokasi.

Karena itu, pesan “kita harus bersinergi” yang disampaikan Danramil 08/Rantau menjadi relevan untuk menggambarkan keseluruhan pertemuan.

Melalui kebersamaan antara pemerintah kecamatan, TNI, Polri, KUA, pemerintahan kampung, ulama, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan dan berbagai elemen lainnya, diharapkan persoalan-persoalan yang muncul di Kecamatan Rantau dapat dideteksi lebih dini, dibicarakan secara terbuka, serta dicarikan penyelesaian yang benar-benar memberi manfaat kepada masyarakat.

Pertemuan sederhana di meja sarapan tersebut pada akhirnya menghadirkan satu pesan penting: menjaga Kecamatan Rantau tetap aman, damai dan terus bergerak menyelesaikan persoalan masyarakat adalah tanggung jawab bersama.

Komentar

Belum ada komentar. Anda dapat menjadi pemberi komentar pertama.