Artikel LPTQ

Ust. Ahmad Nabawi, S.H.I. Kembangkan SymaQ, Inovasi Digital Simaan Al-Qur’an dari LPTQ Kecamatan Rantau

Ust. Ahmad Nabawi, S.H.I. Kembangkan SymaQ, Inovasi Digital Simaan Al-Qur’an dari LPTQ Kecamatan Rantau
Ust. Ahmad Nabawi, S.H.I. Kembangkan SymaQ, Inovasi Digital Simaan Al-Qur’an dari LPTQ Kecamatan Rantau

RANTAU — Kegiatan simaan Al-Qur’an yang selama ini identik dengan mushaf, catatan tangan dan koreksi langsung perlahan mendapat sentuhan baru di Kecamatan Rantau. LPTQ Kecamatan Rantau tengah menyiapkan SymaQ, sebuah aplikasi Android yang dirancang untuk membantu proses menyimak, mencatat kesalahan, mengevaluasi hafalan, hingga menyimpan jejak hasil simaan secara digital.

Aplikasi tersebut digagas dan dikembangkan oleh Ketua LPTQ Kecamatan Rantau, Ust. Ahmad Nabawi, S.H.I., dan saat ini telah memasuki tahap penyempurnaan menuju rilis perdana.

SymaQ lahir bukan dari keinginan sekadar membuat aplikasi Al-Qur’an baru. Gagasannya berangkat dari persoalan yang sangat dekat dengan kegiatan pembinaan hafalan.

Saat seorang santri, peserta didik atau calon peserta MTQ membaca hafalan, penyimak harus mengikuti bacaan dengan cepat. Ketika terjadi kesalahan, penyimak harus mengingat letaknya, mengetahui bentuk kesalahan, memberikan koreksi, bahkan pada kondisi tertentu sekaligus mencatatnya untuk bahan evaluasi.

Dalam praktik sehari-hari, proses tersebut banyak bergantung pada ingatan penyimak, tanda di mushaf atau catatan terpisah. SymaQ mencoba membawa proses itu ke dalam satu ruang kerja digital.

Pada layar aplikasi, penyimak dapat mengikuti bacaan Al-Qur’an dan memberi marker langsung pada bagian yang dinilai bermasalah. Marker tersebut tidak sekadar menjadi tanda visual, tetapi dapat dikaitkan dengan jenis kesalahan yang ditemukan sehingga koreksi memiliki jejak yang dapat dibuka kembali setelah sesi berakhir.

Dengan pendekatan tersebut, SymaQ tidak hanya berfungsi ketika seseorang sedang membaca. Hasil simaan dapat menjadi bahan untuk mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki pada pertemuan berikutnya. Inilah yang membuat arah pengembangan SymaQ berbeda dari aplikasi Al-Qur’an yang hanya menyediakan teks atau bacaan. Di dalamnya sedang dibangun sebuah sistem kerja penyimak.

SymaQ memuat mushaf Al-Qur’an yang dapat digunakan secara offline, pemilihan jenjang hafalan 1, 5, 10, 20 hingga 30 juz, serta pilihan penentuan maqra secara acak, manual dan skema yang disesuaikan untuk kebutuhan latihan MTQ.

Aplikasi ini juga mengintegrasikan 13 kriteria koreksi dan penilaian yang mencakup aspek hafalan, kelancaran, huruf, hukum bacaan, harakat, waqaf hingga suara dan irama.

Namun pengembangan SymaQ tidak diarahkan semata-mata menjadi aplikasi penilaian perlombaan. Ruang penggunaannya justru lebih luas.

Seorang guru dapat memakainya ketika menyimak murid. Orang tua dapat menggunakannya untuk mendampingi hafalan anak. Dua orang penghafal Al-Qur’an dapat saling menyimak. Pembina tahfizh dapat mencatat perkembangan anak binaannya, sementara lembaga pembinaan MTQ dapat memanfaatkannya dalam proses latihan dan evaluasi.

Fitur rekaman sesi dan koreksi suara juga sedang dipersiapkan agar penilaian tidak hanya meninggalkan angka atau tanda. Penyimak nantinya dapat memiliki dokumentasi sesi, screenshot, hasil evaluasi dan riwayat simaan yang tersimpan dalam aplikasi.

Bagi LPTQ Kecamatan Rantau, lahirnya SymaQ sekaligus menunjukkan bahwa inovasi pembinaan Al-Qur’an tidak selalu harus menunggu hadirnya sistem dari tingkat yang lebih tinggi. Kebutuhan yang ditemukan langsung di lapangan dapat diterjemahkan menjadi solusi dari tingkat kecamatan.

Langkah tersebut sejalan dengan berbagai upaya pembenahan yang dalam beberapa waktu terakhir dilakukan LPTQ Kecamatan Rantau, termasuk penguatan sistem administrasi, pembinaan cabang-cabang MTQ, pemanfaatan teknologi, serta peningkatan pemahaman terhadap sistem penilaian musabaqah.

SymaQ menjadi bentuk lain dari arah tersebut: dari pembinaan yang sebelumnya banyak bergantung pada metode konvensional menuju pembinaan yang mulai memiliki dukungan perangkat digital.

Pengembangannya sendiri belum berhenti. Saat ini sejumlah bagian masih terus diuji dan disempurnakan, terutama pada tampilan mushaf, ketepatan penempatan marker pada huruf dan bacaan, mesin penilaian, sistem pemilihan maqra, rekaman audio, penyimpanan sesi serta kenyamanan penggunaan pada telepon seluler.

Pengujian dilakukan langsung pada perangkat Android agar SymaQ tidak hanya baik secara konsep, tetapi benar-benar praktis ketika digunakan sambil menyimak bacaan yang berlangsung terus-menerus.

Karena itu, LPTQ Kecamatan Rantau belum menempatkan SymaQ sebagai produk yang sudah selesai. Versi yang ada sekarang merupakan produk nyata yang terus dimatangkan menuju versi publik.

Namun satu hal sudah mulai terlihat dari proses tersebut. Dari sebuah kegiatan sederhana—seseorang membaca Al-Qur’an dan seorang lainnya menyimak—lahir gagasan untuk membangun sistem yang membuat setiap koreksi tidak lagi selesai ketika suara bacaan berhenti.

Kesalahan dapat ditandai. Koreksi dapat direkam. Hasil dapat ditinjau kembali. Perkembangan hafalan dapat memiliki jejak.

Dan dari Kecamatan Rantau, gagasan itu kini mempunyai nama: SymaQ.

Inovasi digital untuk simaan Al-Qur’an yang sedang dipersiapkan LPTQ Kecamatan Rantau menuju rilis perdana. rilis perdana sebagai salah satu inovasi digital yang lahir dari LPTQ Kecamatan Rantau.

Komentar

Belum ada komentar. Anda dapat menjadi pemberi komentar pertama.