Artikel LPTQ

Tak Menunggu MTQ, Kampung Suka Mulia Hidupkan Pembinaan Tilawatil Qur’an Secara Rutin

Tak Menunggu MTQ, Kampung Suka Mulia Hidupkan Pembinaan Tilawatil Qur’an Secara Rutin
Tak Menunggu MTQ, Kampung Suka Mulia Hidupkan Pembinaan Tilawatil Qur’an Secara Rutin

RANTAU — Semangat pembinaan Al-Qur’an mulai tumbuh dari kampung. Pemerintah Kampung Suka Mulia bersama Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Jami'ul Huda menggagas Pembinaan Tilawatil Qur’an yang dilaksanakan secara rutin setiap Ahad di Masjid Jami'ul Huda, Kampung Suka Mulia, Kecamatan Rantau.

Program tersebut dimulai pada Ahad, 26 Juli 2026, dan pada Ahad, 9 Agustus 2026 telah memasuki pertemuan ketiga. Kegiatan berlangsung mulai sekitar pukul 14.00 WIB, selepas Zuhur hingga menjelang Asar, dengan pembinaan langsung oleh Ustaz Suhaimi.

Tidak sekadar menghadirkan tempat belajar, Pemerintah Kampung Suka Mulia dan BKM Jami'ul Huda juga memberikan perhatian kepada para peserta dengan menyediakan uang jajan setiap bulan. Bentuk dukungan sederhana tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga semangat anak-anak agar tetap hadir, belajar, dan tekun mendalami seni baca Al-Qur’an.

Gagasan ini lahir dari perhatian aparatur kampung, pengurus masjid, dan masyarakat terhadap keberlangsungan generasi Qur’ani. Mereka melihat bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik, khususnya dalam bidang tilawah, tidak akan tumbuh secara tiba-tiba ketika MTQ sudah di depan mata. Dibutuhkan ruang belajar yang rutin, guru yang mendampingi, serta lingkungan yang terus memberi dorongan.

Datok Penghulu Kampung Suka Mulia, H. Hermansyah, S.E., menilai pembinaan semacam ini perlu terus dirawat karena tantangan kaderisasi Qur’ani semakin nyata. H. Hermansyah tercatat aktif memimpin Pemerintah Kampung Suka Mulia dan dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan juga terlibat langsung bersama warga. 

Menurutnya, perhatian terhadap anak-anak yang mau belajar Al-Qur’an harus dimulai dari lingkungan terdekat.

“Generasi yang benar-benar mau mencintai dan menekuni Al-Qur’an sekarang mulai terasa semakin langka. Karena itu, kalau masih ada anak-anak kita yang mau belajar, mereka harus kita jaga semangatnya, kita dukung dan kita beri ruang untuk berkembang,” ujar H. Hermansyah.

Ia berharap pembinaan di Kampung Suka Mulia tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi menjadi budaya pembinaan yang terus tumbuh bersama masyarakat.

“Semoga apa yang kami lakukan di Kampung Suka Mulia ini dapat menjadi contoh dan motivasi bagi kampung-kampung lain di Kecamatan Rantau, bahkan di Aceh Tamiang secara umum. Tidak harus menunggu MTQ baru kita mencari peserta. Pembinaan harus dimulai jauh sebelumnya dan dilakukan terus-menerus,” tambahnya.

Langkah Kampung Suka Mulia memiliki arti penting karena kampung tersebut sebenarnya telah memiliki potensi Qur’ani yang cukup baik. Pada MTQ IX Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2026, tiga santriwati asal Suka Mulia—Az-Zuhra, Hashifa Ramadhani, dan Ratu Balqis—turut membawa nama Kecamatan Rantau pada cabang Syarhil Qur’an Putri. Mereka berasal dari lingkungan pendidikan Al-Qur’an yang tumbuh di Kampung Suka Mulia. 

Karena itu, pembinaan Tilawatil Qur’an yang kini digagas pemerintah kampung dan BKM dapat menjadi tambahan kekuatan bagi ekosistem pembinaan yang sudah ada. Anak-anak tidak hanya diperkenalkan kepada kegiatan Al-Qur’an ketika ada perlombaan, tetapi mempunyai ruang rutin untuk belajar, memperbaiki bacaan, mengenal lagu-lagu tilawah, serta membangun keberanian dan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini.

Ketua LPTQ Kecamatan Rantau, Ahmad Nabawi, S.H.I., menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif Pemerintah Kampung Suka Mulia dan BKM Masjid Jami'ul Huda. Menurutnya, pola seperti inilah yang dibutuhkan untuk membangun pembinaan Al-Qur’an yang benar-benar berkelanjutan.

"Saya sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Datok Penghulu, BKM Jami'ul Huda, Ustadz Suhaimi dan masyarakat Suka Mulia. Ini bukan sekadar kegiatan mengaji setiap Ahad. Yang sedang dibangun sebenarnya adalah kaderisasi. Ketika kampung menyediakan tempat, guru, perhatian bahkan uang jajan untuk menyemangati anak-anak, itu menunjukkan bahwa pembinaan Al-Qur’an benar-benar dianggap penting,” ujar Ahmad Nabawi.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan pembinaan tidak dapat hanya dibebankan kepada LPTQ kecamatan atau dilakukan menjelang pelaksanaan MTQ.

“LPTQ tentu akan terus mendorong dan membantu, tetapi kekuatan terbesar justru ada di kampung. Kalau setiap kampung memiliki kepedulian seperti ini dan membina potensi yang ada di wilayahnya masing-masing, kita tidak perlu panik mencari peserta ketika MTQ tiba. Kita sudah memiliki anak-anak yang tumbuh melalui proses,” katanya.

Menurut Ahmad Nabawi, pemberian uang jajan kepada peserta juga perlu dilihat sebagai bentuk perhatian, bukan semata-mata dari besar kecil nominalnya.

“Bagi anak-anak, perhatian itu penting. Mereka merasa kehadirannya dihargai dan proses belajarnya diperhatikan. Hal sederhana seperti ini kadang justru membuat mereka senang datang kembali pada pekan berikutnya. Mudah-mudahan kelak yang mereka bawa pulang bukan hanya uang jajan, tetapi kecintaan yang semakin kuat terhadap Al-Qur’an.”

LPTQ Kecamatan Rantau berharap inisiatif Kampung Suka Mulia dapat menginspirasi lahirnya pola pembinaan serupa di kampung-kampung lain, baik dalam bidang tilawah, tahfiz, tartil, fahmil, syarhil maupun cabang-cabang Qur’ani lainnya.

Sebab masa depan prestasi MTQ tidak dimulai dari panggung perlombaan. Ia dimulai dari masjid, meunasah, rumah tahfiz, pesantren, dan ruang-ruang kecil tempat anak-anak mau duduk belajar dengan istiqamah.

Dari Masjid Jami'ul Huda, Kampung Suka Mulia telah memulai langkah itu. Dan bila semangat yang sama tumbuh di setiap kampung, Kecamatan Rantau bukan hanya akan memiliki peserta MTQ ketika dibutuhkan, tetapi memiliki generasi yang tumbuh bersama Al-Qur’an sepanjang waktu.

Komentar

Belum ada komentar. Anda dapat menjadi pemberi komentar pertama.