Artikel LPTQ

45 Tahun Menanti, Aceh Akhirnya Juara I Fahmil Qur’an Putri MTQ Nasional

45 Tahun Menanti, Aceh Akhirnya Juara I Fahmil Qur’an Putri MTQ Nasional
45 Tahun Menanti, Aceh Akhirnya Juara I Fahmil Qur’an Putri MTQ Nasional

SEMARANG, 19 September 2026 — Penantian panjang Aceh di cabang Fahmil Qur’an akhirnya terbayar. Untuk pertama kalinya sejak cabang tersebut diperlombakan pada MTQ Nasional tahun 1981, Duta Aceh berhasil meraih Juara I Fahmil Qur’an Putri pada Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) XXXI Tahun 2026 di Semarang, Jawa Tengah.

Prestasi bersejarah itu dipersembahkan oleh tiga santriwati Dayah Insan Qurani Aceh Besar, yakni Izza Mushviya, Azka Dara Maulidya, dan Kayyisa Farras. Ketiganya tampil sebagai regu Fahmil Qur’an Putri Aceh pada babak final, Jumat, 18 September 2026.

Aceh keluar sebagai juara setelah mengumpulkan 1.505 poin, mengungguli Kalimantan Timur dengan 1.290 poin, Jawa Tengah 1.170 poin, dan Jawa Timur 835 poin.

Kemenangan tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar angka di papan nilai. Fahmil Qur’an telah menjadi bagian dari MTQ Nasional sejak 1981, dan baru pada MTQN XXXI Tahun 2026 Aceh berhasil mencapai posisi tertinggi pada cabang tersebut. Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh menyebut capaian ini sebagai catatan sejarah, karena merupakan gelar Juara I Fahmil Qur’an pertama bagi Aceh sejak cabang itu mulai dipertandingkan secara nasional.

Dengan rentang sejak 1981 hingga 2026, kemenangan tersebut menutup penantian sekitar 45 tahun.

Izza, Azka dan Kayyisa bukan tim yang terbentuk secara mendadak menjelang MTQ Nasional. Ketiganya sama-sama menempuh pendidikan di Dayah Insan Qurani Aceh Besar sejak jenjang MTs hingga MA. Kebersamaan yang panjang tersebut kemudian menjadi salah satu kekuatan ketika mereka dipersatukan dalam satu regu untuk membawa nama Aceh di tingkat nasional.

Di balik penampilan mereka di hadapan dewan hakim terdapat proses panjang berupa pembelajaran, latihan, pendalaman materi dan pembinaan yang dilakukan secara terus-menerus. Dayah Insan Qurani sendiri dikenal konsisten mengirimkan delegasi ke MTQ Nasional sejak beberapa tahun terakhir, sehingga pembinaan yang berjalan bukan hanya bersifat sesaat menjelang perlombaan.

Bagi dunia pembinaan Al-Qur’an, kemenangan Aceh di Semarang membawa pesan penting. Prestasi besar hampir tidak pernah lahir dari pembinaan yang baru dimulai ketika perlombaan sudah dekat.

Fahmil Qur’an membutuhkan penguasaan materi yang luas, ketepatan dan kecepatan menjawab, kekompakan antarpersonel, kesiapan mental serta kemampuan menghadapi tekanan ketika berlomba. Seluruh unsur tersebut membutuhkan proses yang berulang, latihan yang konsisten dan pembinaan yang terukur.

Semangat inilah yang juga sejalan dengan arah pembinaan yang terus didorong LPTQ Kecamatan Rantau. Penjaringan peserta tidak cukup hanya dilakukan ketika pembentukan kafilah dimulai, dan pembinaan tidak seharusnya baru berjalan ketika MTQ sudah berada di depan mata.

Peserta membutuhkan ruang latihan, evaluasi, tryout, kompetisi berkala serta kesempatan tampil sebanyak mungkin agar kemampuan mereka tumbuh secara bertahap.

Kemenangan Aceh di tingkat nasional menunjukkan bahwa investasi terbesar dalam MTQ sesungguhnya bukan hanya pada pelaksanaan lomba, melainkan pada proses pembinaan itu sendiri.

Kisah tiga santriwati tersebut juga menjadi bukti bahwa lembaga pendidikan Al-Qur’an di daerah memiliki posisi yang sangat penting dalam melahirkan kader-kader MTQ. Sekolah, madrasah, dayah, pesantren, TPQ dan balai pengajian merupakan tempat pertama potensi ditemukan dan diasah sebelum kemudian dibawa ke jenjang pembinaan yang lebih tinggi.

Karena itu, prestasi Aceh di Fahmil Qur’an selayaknya tidak berhenti sebagai kebanggaan sesaat. Capaian ini dapat menjadi dorongan bagi kabupaten, kecamatan hingga kampung untuk semakin serius melakukan penjaringan bakat, pendataan kader dan pembinaan cabang MTQ secara berkelanjutan.

Hari ini, Izza Mushviya, Azka Dara Maulidya dan Kayyisa Farras berdiri sebagai Juara I Fahmil Qur’an Putri tingkat nasional.

Namun jauh sebelum nama mereka diumumkan sebagai juara, ada proses belajar dan pembinaan yang telah mereka jalani bertahun-tahun.


Juara memang diumumkan dalam satu hari. Tetapi juara tidak dibentuk dalam satu hari.

Komentar

Belum ada komentar. Anda dapat menjadi pemberi komentar pertama.