RANTAU, Minggu (20/9/2026) —** Capaian Kafilah Aceh pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang, Jawa Tengah, mendapat apresiasi dari Ketua LPTQ Kecamatan Rantau, Ahmad Nabawi, S.H.I.
MTQ Nasional XXXI resmi ditutup Menteri Agama RI Nasaruddin Umar di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang, Sabtu malam, 19 September 2026. Pada hasil akhir, Aceh berhasil mengumpulkan 99 poin dan menempati peringkat keempat nasional bersama Jawa Timur. Kalimantan Timur keluar sebagai juara umum dengan 288 poin, disusul Jawa Tengah 208 poin dan DKI Jakarta 129 poin. ([Humas Aceh][1])
Bagi LPTQ Kecamatan Rantau, keberhasilan Aceh kembali berada di jajaran atas MTQ Nasional bukan semata-mata pencapaian dalam sebuah kompetisi, tetapi momentum penting untuk membangun optimisme baru terhadap masa depan pembinaan Al-Qur’an di Aceh.
Ketua LPTQ Kecamatan Rantau, **Ahmad Nabawi, S.HI**, mengaku terharu melihat perjuangan dan hasil yang dicapai para peserta, pelatih, pembina serta seluruh unsur Kafilah Aceh.
“Masya Allah, saya benar-benar terharu dan bangga melihat capaian Kafilah Aceh pada MTQ Nasional kali ini. Peringkat empat nasional bukan sekadar angka. Bagi saya, ini dapat menjadi titik awal sebuah hentakan baru bagi Aceh dalam menatap MTQ ke depan,” ujar Ketua LPTQ Kecamatan Rantau.
Ia menilai momentum tersebut menjadi semakin penting setelah Kementerian Agama memutuskan bahwa MTQ Nasional akan diselenggarakan setiap tahun, berbeda dengan pola sebelumnya yang berlangsung dua tahun sekali dengan selingan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ). Kebijakan tersebut membuka ruang kompetisi yang lebih rutin sekaligus menuntut pola pembinaan yang lebih berkesinambungan di setiap daerah.
“Insya Allah, dengan MTQ Nasional yang dilaksanakan setiap tahun, kesempatan untuk membina, mengevaluasi dan mempersiapkan peserta juga semakin terbuka. Aceh harus memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat pembinaan dari bawah, menjaga kesinambungan kaderisasi dan mulai menunjukkan kembali kekuatannya di panggung nasional,” katanya.
Menurut Ahmad Nabawi, capaian di Semarang juga memiliki makna tersendiri bagi Aceh sebagai daerah yang memiliki kekhasan dalam pelaksanaan syariat Islam. Prestasi di bidang Al-Qur’an, menurutnya, semestinya menjadi salah satu bidang yang terus mendapatkan perhatian serius melalui pembinaan yang terencana dan tidak hanya digerakkan menjelang pelaksanaan MTQ.
“Sebagai daerah yang menjadikan syariat Islam sebagai bagian penting dari identitas dan kehidupan masyarakat, kita tentu berharap Aceh terus bergerak menuju kegemilangan dalam bidang Al-Qur’an. Tetapi kegemilangan itu harus dibangun melalui proses—mulai dari penjaringan, pembinaan, pelatih yang berkualitas, kesempatan tampil, evaluasi, sampai pembinaan berjenjang yang dilakukan sepanjang tahun,” lanjutnya.
Prestasi Aceh pada MTQN XXXI semakin terasa istimewa setelah sejumlah cabang berhasil menorehkan hasil penting. Salah satu yang paling bersejarah datang dari **Fahmil Qur’an Putri**. Regu Aceh yang diperkuat **Izza Mushviya, Azka Dara Maulidya dan Kayyisa Farras** berhasil meraih Juara I dengan nilai 1.505. Kemenangan tersebut merupakan gelar Juara I Fahmil Qur’an pertama bagi Aceh sejak cabang itu mulai diperlombakan pada MTQ Nasional tahun 1981. ([Kemenag Aceh][3])
Menurut Ketua LPTQ Kecamatan Rantau, keberhasilan seperti itu menunjukkan bahwa hasil besar hampir selalu didahului proses pembinaan yang panjang. Karena itu, prestasi nasional hendaknya tidak hanya dirayakan, tetapi dijadikan bahan belajar bagi LPTQ di tingkat kabupaten dan kecamatan untuk memperkuat sistem pembinaan masing-masing.
“Kita boleh berbangga hari ini, tetapi kebanggaan itu harus kita ubah menjadi energi untuk bekerja. Jangan setelah MTQ selesai pembinaan ikut selesai. Justru sekarang waktunya kita melihat siapa kader kita, siapa pelatih kita, cabang mana yang harus diperkuat dan bagaimana peserta diberi ruang untuk terus berlatih dan tampil,” ujarnya.
Pesan tersebut sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar pada penutupan MTQN XXXI. Menag menegaskan bahwa berakhirnya musabaqah tidak berarti berakhir pula tugas membumikan Al-Qur’an. Pembinaan qari-qariah, hafizh-hafizhah, mufasir, penulis dan kaligrafer perlu dilakukan secara terencana dan berkelanjutan, serta tidak berhenti setelah kompetisi selesai. ([Kemenag][4])
Bagi LPTQ Kecamatan Rantau, capaian Aceh di Semarang sekaligus menjadi penyemangat untuk terus membangun pembinaan yang lebih terstruktur di tingkat kecamatan. Penjaringan potensi, latihan rutin, tryout, Training Center serta penyediaan ruang kompetisi bagi peserta dinilai menjadi bagian penting agar kader-kader Al-Qur’an mempunyai proses yang cukup sebelum memasuki panggung yang lebih tinggi.
“Kita berharap apa yang diraih Aceh hari ini bukan puncak, tetapi awal. Insya Allah dari Semarang ini Aceh memulai hentakan baru. Pelan-pelan kita bangun kembali kekuatan itu sampai suatu hari Aceh benar-benar berdiri di puncak prestasi MTQ Nasional,” pungkas Ketua LPTQ Kecamatan Rantau.
MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 telah berakhir, namun bagi dunia pembinaan Al-Qur’an, pekerjaan justru kembali dimulai. Dengan penyelenggaraan MTQ Nasional yang kini menjadi agenda tahunan, jarak menuju panggung nasional berikutnya semakin dekat.
Dan bagi Aceh, 99 poin serta posisi empat besar nasional dapat menjadi pijakan untuk melangkah lebih tinggi.

Komentar
Belum ada komentar. Anda dapat menjadi pemberi komentar pertama.